BUPATI AJAK OPD BERTINDAK CEPAT TERHADAP BENCANA ALAM

Rabu, 08 Jan 2020 | 21:05:14 WIB - Oleh Administrator


Ajakan tersebut disampaikan Bupati Pati Haryanto saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Tanggap Bencana Alam Banjir di Ruang Joyo Kusumo Sekretariat Daerah Kabupaten Pati pada selasa, 7 Januari 2020. Yang juga dihadiri Wakil Bupati Saiful Arifin, Sekda Suharyono dan perwakilan beberapa instansi diantaranya BPBD, Dinsos, DPUTR, Dislutkan, Dinkes, Dispermasdes, Tagana, dan PMI.

Bupati Pati Haryanto mengimbau segenap jajarannya untuk cepat tanggap melakukan antisipasi dan penanganan banjir. “Terlebih ketika banjir sudah terjadi, sekalipun misalnya skalanya kecil dan hanya sebentar, OPD terkait harus hadir secara fisik dan melakukan tindakan”, sambungnya.

Bupati berharap agar sekecil apa pun banjir agar jangan dikecilkan dan diabaikan. “Jangan berpikir bahwa banjir bandang hanya sebentar, sudah biasa, lalu kita biarkan. Kalau kita tidak hadir di sana dan bertindak, kita akan dijauhi masyarakat,” ajak bupati. Langkah kehadiran secara fisik diperlukan untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa aparatur negara tidak abai. “Saya minta Camat sebagai perpanjangan tangan bupati untuk aktif terjun ke lapangan ketika terjadi banjir di wilayahnya. Bagaimanapun, kita harus melakukan tindakan. Paling pertama adalah penyelamatan warga. Kalau sudah dipastikan tidak ada korban, baru lakukan langkah berikutnya,” tegasnya.

Ada beberapa langkah antisipasi. Diantaranya inventarisasi perlatan agar saat diperlukan bisa langsung diterjunkan. Berikutnya ialah menginventarisasi titik-titik yang sering terjadi banjir bandang. Terkait hal ini, ia menyampaikan, banjir bandang di beberapa wilayah terjadi akibat luapan sungai. Selnjutnya adalah juga menginventarisasi korban. Hal ini sekaligus untuk memetakan proporsi penyaluran bantuan. Selanjutnya ialah antisipasi jika ada gedung sekolah terkena banjir.

Ia mengatakan, jika banjir terjadi ketika masa aktif belajar-mengajar, pihak sekolah harus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan disdik. Dan berkitan dengn kesehatan. Haryanto menegaskan, karena air banjir berpotensi menimbulkan penyakit, Dinkes dan instansi terkait harus aktif turun ke lapangan dan menggelar bakti sosial.

Yang tidak kalah pentingnya adalah mengimbangi informasi banjir yang beredar di media sosial. Sebab, lanjutnya, kebanyakan yang tersebarluas di medsos adalah kejadian sebelum ada penanganan. Haryanto juga meminta agar ada pula upaya untuk mengimbangi informasi yang tidak benar / hoaks terkait banjir yang ada di medsos. “Seperti kemarin ada hoaks banjir bandang di Tayu, berantai di media sosial. Padahal itu setelah ditelusuri kejadiannya di Jawa Barat. Kalau kita tidak aktif meluruskan maka berita yang tidak benar yang akan merajalela,” pungkasnya.